Kamis, 28 September 2017

Muna dan Identitas Yang Sempat Hilang

Setelah sekian lama akhirnya Pemda Kabupaten Muna berniat membangun sebuah taman kota sebagai fasilitas publik yang bisa digunakan oleh semua masyarakat. Selain sebagai (RTH) Ruang Terbuka Hijau publik, pada taman tersebut juga akan dibangun monumen entah dia berupa tugu atau prasasti atau mungkin juga relief yang konon katanya akan menampilkan kisah dari zaman prasejarah mengenai peradaban tua di pulau muna dan juga mengenai laying-layang. Saya kemudian bertanya-tanya kenapa baru sekarang? Tapi sudahlah, yang jelas hal ini sudah cukup membuat tertarik, menurutku ini sangat baik buat Kabupaten Muna yang saat ini sedang kehilangan identitas.

Sekedar mengenang kembali memori masa lampau, sekitar 20 tahun yang lalu dimana anak-anak seumuranku masih duduk dibangu sekolah dasar. Pemandangan kota raha masih klasik, saat malam tiba jalanan-jalanan belum terang benderang, lampu-lampu jalan yang menghiasi hampir semua jalan di kota raha seperti sekarang ini, saat itu masih jarang ditemui dan hanya terdapat dijalan baypass dan juga area pertokoan yang menjadi komplek pemukiman etnis tionghoa. Keraiaman terpusat diarea baypass dan area pertokoan saat malam, dapat dibilang pusat kota ada pada daerah itu. Untuk momen-momen tertentu seperti balap motor ataupun acara-acara malam seperti pameran dan pasar malam sering sekali diadakan didaerah baypass, hal itu cukup mampu menghibur masyarakat kota raha. Seketika kota menjadi ramai, penduduk dari kecamatan lain berbondong-bondong datang bahkan yang dari seberang pulau sekalipun rela datang, sehingga semua berbaur menjadi satu kemudian hanyut dalam kegembiraan, dalam keramaian suasana pameran.

Tak jauh dari situ di Jl. Jend Sudirman yang bersimpangan dengan Jl. Yos Sudarso terdapat tugu jambu mete. Dahulu tugu itu terlihat tua olehku yang masih kanak-kanak, dia dengan megah berdiri yang terdiri dari beberapa buah jambu mete yang sengaja disusun rapih dan dipuncaknya terdapat jam pada masing-masing sisinya yang berjumlah 4. Letaknya sangat strategis karena berhadapan dengan pelabuhan, seolah hendak memberi pesan pada tiap pendatang bahwa inilah muna, inilah jambu mete kebanggaan Kabupaten Muna. Saat turun dari kapal dan hendak akan memasuki kota raha, tugu jambu mete menyambut , seolah ingin menyapa tiap pendatang entah mereka pengusaha, wisatawan maupun masyarakat lokal yang pulang dari bepergian. Itulah identitas kabupaten muna, daerah yang masyur dengan perkebunan jambu mete dan salah satu penghasil biji mete terbaik di Sulawesi Tenggara atau bahkan Indonesia yang tetap bertahan sampai memasuki awal tahun 2000an. Saat itu terdapat Beberapa gudang jembu mete yang masih beraktifitas di kota raha dengan pemandangan mobil truk yang sehari-hari mengangkut karung mete kapasitas 50kg dan entah dibawa kemana. Masih gampang pula disaksikan di kota raha para pekerja yang sehari-hari membelah biji mete dengan peralatan yang meskipun tradisional namun dapat mengeluarkan kacang mete dengan sempurna, ya sempurna tanpa terbelah ataupun pecah menjadi beberapa bagian.

Kira-kira sekitar tahun 2000an tugu tersebut menghilang, berganti dengan tugu biasa yang tidak memiliki nilai estetik sama sekali apalagi nilai sejarah maupun budaya. Tugu itu semacam pertanda berakhirnya era kacang mete di kabupaten muna, atau mungkin sebuah prasasti pertanda bahwa kacang mete di kabupaten muna tinggal sejarah. Hahaha…sebetulnya tidak se extreme itu, buktinya sampai sekarang masih dijual kacang mete dalam bentuk kemasan dengan berat 8 ons sampai 1 kg, berarti Kab. Muna masih menjadi salah satu penghasil kacang mete di Sulawesi tenggara tapi dengan stok yang mungkin tidak sebanyak dulu.

Beberapa tahun kemudian setelah tuguh yang tidak memiliki nilai estetik itu selesai dibangun, dibangun pula tugu lain didekatnya yang lebih megah, lebih mahal dan tentunya lebih tinggi menjulang dari tugu tersebut maupun tugu mete sebelumnya. Ketika tugu sebelumnya tidak mencerminkan identitas kabupaten muna sedikitpun, dibangunnya tugu baru seperti membawa misi tersendiri yang berusaha membangun kembali identitas kabupaten muna, bukan malah mengembalikan identitas muna sebagai penghasil kacang mete, tugu ini berusaha membangun citra baru, membangun identitas baru mengenai muna sebagai salah satu daerah penghasil kayu jati terbaik di Indonesia. Meskipun identitas itu tidak salah-salah amat karena kenyataannya memang demikian, hutan di muna sebagian besar terdapat tanaman jati dengan usia puluhan tahun, maka wajar kalau jati di muna termasuk salah satu yang terbaik di Indonesia karena usianya lebih tua dari saya yang saat ini masih berusia 25 tahun namun boros di muka. Memang muka tidak bisa menipu, saya selalu dipanggil kanda atau senior dari yang berusia lebih muda hanya karena melihat muka doaang, tapi anehnya itu tidak terjadi pada yang lain, ada orang yang lebih tua tapi mukanya keliatan lebih muda, tapi kenapaaa?? Kenapa harus sayaa? Kenapaaaa? Tampar akuu maas…taampaaarr, seperti itulah ekspresi denny siregar apabila dia ada diposisiku saat ini.

Berpuluh-puluh tahun lamanya kabupaten muna mencari identitas, dari salah satu penghasil biji mete terbaik kemudian berganti menjadi salah satu penghasil jati terbaik dan yang terbaru berusaha mengangkat identitas sebagai daerah dengan sejarah layang-layang tertua didunia. Dari 3 identitas yang sebelumnya dimunculkan, sejarah mengenai layang-layang ini lebih banyak mengandung nilai, diantaranya nilai sejarah, pengetahuan, ekonomi dan juga wisata. Karena syarat nilai maka tidak salah apabila hal ini kemudian diangkat sebagai identitas kab. Muna dan lewat sejarah layang-layang ini sudah saatnya Kabupaten Muna berbenah diri untuk menjadi salah satu daerah tujuan wisata bagi wisatawan nasional dan mancanegara.


_Azis Syahban, Makassar 28 September 2017
luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.comnya.com tipscantiknya.com